(Suatu Tinjauan Etis Teologis dalam Etika Jawa)
Tulisan ini adalah tulisan saya sendiri ketika masih menjadi mahasiswa teologia. Sebagai bagian dari warga Kristen, kita mengemban tugas atau “beban” untuk ber”teologi” kepada jemaat yaitu memberitakan firman Tuhan dengan benar seperti yang dimaksudkan Tuhan melalui penulis atau redaktor alkitab. Seringkali bagi kita (bangsa Indonesia) mewarisi teologi kolonial dengan begitu saja. Namun, sekarang telah mulai bangkit atau tumbuh kesadaran di kalangan teolog kita, bahwa di Indonesia berbeda konteks waktu historis, lingkup geografis dan budayanya.
Kebudayaan “Barat” lebih menekankan pada budaya ’salah’, sedangkan kebudayaan “Timur” menekankan pada budaya ‘malu’. Kini menjadi jelaslah gambaran kita mengenai teologi “Barat” yang berkembang di sana, ada perberbedaan konteks antara “Timur” dan “Barat”. Jelas, kalau teologi “Barat” diberlakukan dalam konteks kita (walau sudah sejak lama berlaku) yang nampak atau akan terjadi adalah upaya yang memaksakan konteks budaya “Barat” ke konteks kita yaitu budaya “Timur”, Jawa. Dengan demikian untuk dapat berteologi dalam konteks budaya timur diperlukan perangkat yang segala sesuatunya harus mengacu pada konteks budaya Timur, yaitu malu.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai permasalahan yang menyangkut kehidupan gereja yang berkaitan dengan teologia. Persoalan yang akan dijumpai itu seperti :”Anak Jadah” adalah anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan yang tidak mendapat “restu” dari masyarakat, baik dari hubungan ekatra-marital maupun pre-marital. Permasalahan “Anak Jadah” yang akan dibahas dalam tulisan ini ditinjau dari segi Etika Jawa dan juga bagaimana Etika Kristen memandang permasalahan ini.
Untuk membahas lebih jauh tentang anak “jadah” ini, saya berangkat dari proposisi demikian:
- Semua manusia adalah umat Allah
-
Anak “jadah” adalah manusia.
-
Jadi, anak “jadah” adalah umat Allah
Dengan menarik kesimpulan dari adanya dua pernyataan dasar (premis mayor dan minor) dari metode deduktif ini dengan harapan dapat memperoleh kesimpulan yang benar.
Dengan demikian, anak “jadah” ini pun adalah anak Allah yang dihadapanNya dia adalah manusia yang benar. Dia bukan sebagai manusia yang berdosa, najis, haram yang harus dibuang dalam upacara adat Jawa, sehingga bagi masyarakat sekitarnya, dia adalah manusia yang tidak benar dan berdosa, najis, haram terlebih lagi dikatakan telah merusak keharmonisan, keselarasan, tatanan kosmis. Oleh karena itu, dia perlu “disingkirkan” jauh-jauh agar tatanan kosmis tidak terganggu dan kembali menjadi harmonis.
maaf, saya nggak berani mengambil kesimpulan. Karena hampir semua manusia beragama telah menanam benih benih penolakan didalam benak dan hatinya untuk suatu kebenaran yang bukan datang dari agamanya.
Salam
terima kasih atas komennya, benar memang hampir setiap orang sudah memiliki penolakan thd anak jadah, nah apalagi yang mau saya katakan di sini adalah bahwa orang jawa ini dalam rangka menjaga keselarasan alam/keharmonisan alam dengan alasan bahwa anak jadah ini adalah anak dari hasil perkawinan yang tidak mendapat restu dari yang menjaga keselarasan alam.
Salam hormat
aku bingung, arti jadah apa sih?
Ampun. Aku malah dijebak wanita yang mengaku muallaf. Dia punya 2 KTP. Di Bali status kawin, Hindu. Di Surabaya KTPnya janda, Islam. Trus kita maksiat, aku pikir janda sih..Eh, begitu anak lahir, ternyata dia masih punya suami di Bali. Wanita itu Poliandri. Kawin cerai tujuh kali. Dua anaknya sebelumnya juga gak jelas nasabnya. Trus kelgnya mendesak dan nuntut sy sgr kawin. Rumah tanggaku pertama akhirnya hancur. Lalu aku nikah resmi dg si Poliandri itu. Gimana status anak itu? Untungnya aku bertobat. Kembali ke isteri pertama dg ketiga putriku. Untuk laki2 yang sudah harmonis, hati2 dg Wanita Muallaf Palsu Gaya Baru..Tks
Gak perlu pakai tes DNA segala. Ntar kayak Rahma Azhari sama Rouf. Keyakinan aja…gimana fisik dan rupa anaknya. Ya, Keyakinan aja..
HJ. AGA AYU NITYA DHARMANI, SE, MM. TOP WOMEN SPESIALIS PERSELINGKUHAN. AHLI POLIANDRI. KTPNYA GANDA. DI BALI AGAMA HINDU, KAWIN. DISURABAYA, HAJJAH, ISLAM DAN JANDA. PANDAI BICARA, GAUL, INTELEK TINGGI. TAPI JANDA ALIAS KAWIN CERAI SUDAH 7 KALI..KASIHAN KETIGA ANAKNYA. GAK JELAS NASAB, BIBIT BOBOT BEBET, SIAPA BAPAK BIOLOGISNYA DAN AKTE KELAHIRANNYA AKHIRNYA DIPALSUKAN. WAHAI UMAT MUSLIM..HATI2 DENGAN WANITA MUALLAF PALSU. KEHARMONISAN RUMAH TANGGA JANGAN SAMPAI TERKOYAK. WANITA ITU JADI DOSEN UNESA SURABAYA..
Oh itu..Mbak AYU NITYA mantan pramugari . Aku kenal banget sama orangnya. Dia emang care, pandai promosi, tapi hobbi selingkuhnya juga tidak bisa dihilangkan. Kayaknya karakter keturunan ibunya yang jadi bidan itu. AYU NITYA terkenal kok dimana-mana pintar merayu dan mempermainkan perasaaan laki-laki. Maklum dia kan hiper, maniak dan wanita petualang sejati. Di Komplek AL Kenjeran Surabaya sejak dia SMP perempuan itu liar sekali. Benar kata lentho kalo dia suka merebut suami orang. Aku temannya sejak SD. Rumah tangganya berantakan sampai TUJUH kali. Para mantan suaminya kembali ke isteri n anak-anaknya. Bahkan TIGA anak kandung AYU NITYA sampai sekarang nggak jelas siapa bapak biologis dan akte kelahiran anaknya juga DIPALSUKAN. Orangnya jelita tapi kalo dinikahi jangan keburu deh..Having fun sex aja bolehlah. Lagi pula perempuan murahan kayak gitu apa ideal untuk berumah tangga. Masa lalu kelabu terus terulang meski dengan yang baru. Gitu komentarku ya